
Di halaman tempat harapan disemai
berdiri kau sejak lama,
berakar dalam pada cerita,
menyimpan jejak puluhan tahun usia.
Di bawah naunganmu yang teduh,
langkah kecil tumbuh menjadi arah,
tawa siswa bersahut riuh,
menemani hari-hari yang cerah.
Kau saksi pagi yang tergesa,
upacara yang khidmat berdiri,
bisik mimpi anak-anak bangsa,
yang belajar mengejar arti diri.
Namun hari itu langit berubah,
hujan turun tak lagi ramah,
angin lebat datang mengarah,
menggoyang tubuhmu yang megah.
Kau bertahan sekuat mungkin,
menggenggam tanah dengan sisa daya,
seolah tak ingin tinggalkan halaman ini,
tempatmu menjaga mereka semua.
Hingga akhirnya kau pun rebah,
perlahan jatuh tanpa amarah,
tak satu pun yang kau sentuh luka,
tak satu pun yang kau buat celaka.
Engkau tumbang dengan bijaksana,
seperti guru yang mengalah demi muridnya,
menjaga hingga akhir usia,
meski tubuhmu tak lagi perkasa.
Kini kau diam di pelataran,
namun jasamu takkan terlupa,
beringin tua di halaman sekolah,
telah mengajarkan arti setia dan bijaksana.
